Custom Search

Donate For Our Server!



Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com
Home
Links
UU Pangan No. 7
Perberasan
Makanan Tradisional Ind.
Tempe
Tempe Lamtoro
News Feeds
Sitemap





Lost Password?

 
Subscribe in a reader

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1
mod_vvisit_counterYesterday88
mod_vvisit_counterThis week89
mod_vvisit_counterThis month1988
mod_vvisit_counterAll387557

Home arrow Perberasan arrow Bulog Sulit Serap 3,5 Juta Ton Beras
Bulog Sulit Serap 3,5 Juta Ton Beras PDF Print E-mail
Written by ekonomi.inilah.com   
http://static.inilah.com/data/berita/foto/1310562.jpgINILAH.COM, Jakarta - Perum Bulog diprediksi sulit menyerap 3,5 juta ton beras dari petani. Masalah kualitas dan harga di atas HPP jadi pemicunya. Belum lagi, soal Permentan yang sulit direalisasikan.Pengamat pertanian dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bustanul Arifin mengatakan, secara historis, hambatan Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menyerap beras dari petani adalah faktor kualitas dan harga. Berkaca pada pembelian padi 2010, harga di tingkat petani jauh di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Menurutnya, selisihnya bisa mencapai Rp500 per kilogram padi. Bahkan, bisa lebih dari itu jika kualitas padinya sangat baik. “Begitupun pada penyerapan padi dari petani di 2011 ini,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (10/3).

Di sisi lain, jika ingin dibeli sesuai HPP pun, kualitas padi harus terpenuhi dengan kadar air di bawah 25%. “Jika tidak tercapai, harganya rendah di bawah HPP. Karena itu, tengkulak jadi pembelinya, bukan Bulog,” imbuhnya.

Memang, lanjut Bustanul, ada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan), No 5 tahun 2011 yang memberikan keleluasaan kepada Bulog jika kualitas padi tidak terpenuhi. Permentan itu berusaha menutup kesenjangan antara harga di tingkat petani dengan HPP. “Persoalannya, pelaksanaan di lapangan masih sulit diimplementasikan,” ucap Bustanul.

Karena itu, imbuh Bustanul, peraturan itu akan percuma jika di lapangan tidak bisa memenuhinya sehingga target harga yang diinginkan Bulog tidak bisa dicapai. “Permentan itu menghadapi masalah administrasi. Sebab, Bulog bukan bawahan Kementerian Pertanian,” ungkapnya.

Untuk itu, dia menyarankan, para kepala Bulog daerah, bisa menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang dinas atau pemda yang memiliki kewenangan atas Permentan itu. “Ini tidak gampang dan itu yang harus dipecahkan. Setelah rapi, baru bisa bicara target 3,5 juta ton,” tutur Bustanul.

Dia menegaskan, jika prosedur pembelian padi tidak jelas dan masih multitafsir, tidak akan menjamin harga di tingkat petani. Target penyerapan oleh Bulog pun akan sulit tercapai.

Dari sisi budget pun, Bulog saat ini hanya mampu menyerap 7-8% dari total produksi beras nasional. Sedangkan target 3,5 juta ton beras, mencapai 10% dari total produksi. “Jika Permentan itu tidak cukup efektif diterapkan, sulit bagi Bulog menyerap beras 3,5 juta ton,” ungkapnya.

Jika Bulog membeli beras di atas HPP, terancam dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Karena itu, Bulog pun dalam dilema. Jika pemerintah ingin membantu petani yang kualitas padinya rendah akibat tingginya kadar air, harus ada pihak yang menjemur dan dananya ditalangi pemerintah.

Sebab, rendahnya kualitas padi akibat curah hujan, akan menghambat Bulog mencapai target stok beras hingga 10%. Selama ini, petani selalu jadi korban. Karena rendahnya kualitas padi, harganya pun hancur di tangan pengepul atau pedagang. “Petani rugi dua kali,” tukasnya.

Tapi, Bustanul mendengar kabar, Bulog telah menyeleksi tengkulak-tengkulak yang akan mengisi gudang-gudang Bulog. Diharapkan, prosesnya berjalan dengan benar. “Sebab Bulog hanya berurusan soal UPGB (Unit Penggilingan Gabah dan Beras). Untuk kepentingan non-UPGB, Bulog bermitra dengan tengkulak,” paparnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso menyatakan, pihaknya baru menyerap 117 ribu ton beras dari petani lokal sepanjang panen sampai Februari 2011 untuk daerah-daerah di Pulau Jawa, Sulawesi Selatan, dan NTB. Padahal, Bulog telah melakukan kontrak pembelian beras sebanyak 145 ribu ton.

Di sisi lain, Bulog juga harus mencapai target pengadaan beras 2011 sebesar 3,5 juta ton dari stok saat ini 1,5 juta ton. Menurut Sutarto, rendahnya penyerapan tersebut disebabkan panen yang belum merata terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini menyebabkan masih tingginya harga beras di tingkat petani yang melebihi HPP.

Untuk itu, Sutarto mengharapkan akan ada peningkatan dengan adanya panen-panen di beberapa daerah lain. "Karena kita sekarang baru pertengahan bulan ini Lampung panen, Jawa Barat panen, mudah-mudahan daerah-daerah itu pengadaan bisa ditingkatkan," paparnya.

Dengan penyerapan yang masih rendah tersebut, Sutarto tidak merasa khawatir. Pasalnya, cadangan Bulog saat ini masih tersedia 1,5 juta ton. “Lalu, raskin pun telah kita salurkan Maret lebih dari 67% dari target. Kalau awal Maret saya kira ini relatif cukup baik," tandasnya. Sebagai stabilisator dan penjaga stok pangan, Bulog minimal harus memiliki persediaan 4,5 hingga 5 juta ton beras selama satu tahun. [mdr]

Sumber: http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1310562/bulog-sulit-serap-35-juta-ton-beras

 
Next >

9 JURUS SUKSES BEERTANAM PEPAYA KALIFORNIA

Telah terbit:

Bisa didapat di toko2 buku di seluruh tanah air.


UD PRIMA AGRO
Copyright © 2007 - 2017 Kemandirian Pangan