Custom Search

Donate For Our Server!



Kurs Jual Beli
sumber: KlikBCA.com
Home
Links
UU Pangan No. 7
Perberasan
Makanan Tradisional Ind.
Tempe
Tempe Lamtoro
News Feeds
Sitemap





Lost Password?

 
Subscribe in a reader

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday66
mod_vvisit_counterYesterday95
mod_vvisit_counterThis week384
mod_vvisit_counterThis month1893
mod_vvisit_counterAll295997

Home arrow Food arrow Distribusi Raskin oleh Bulog Ditolak
Distribusi Raskin oleh Bulog Ditolak PDF Print E-mail
Written by SK. Kompas Cetak   
Persoalan Utama pada Sistem Kontrol (SK Kompas Cetak)
Rabu, 10 Juni 2009 | 04:29 WIB
Jakarta, Kompas -  Pemerintah menolak tawaran Perum Bulog untuk menyalurkan beras untuk rakyat miskin langsung dari gudang Bulog ke titik yang bisa dijangkau rumah tangga miskin. Selama ini Bulog hanya menyalurkan dari gudang hingga ke kecamatan.

Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar, Selasa (9/6) di Jakarta, menyatakan, pemerintah khawatir apabila distribusi beras untuk rakyat miskin (raskin) ditangani Bulog, pemerintah daerah akan lepas tangan. Padahal, pemdalah yang mempunyai jaringan hingga ke desa.

Guna mengatasi masalah penanganan distribusi raskin, perlu diadakan rapat kerja gabungan Komisi IV DPR yang mengurusi masalah pangan dengan Komisi II DPR yang menangani pemerintahan daerah, dan Menteri koordinator Kesejahteraan Rakyat, serta Menteri Dalam Negeri.

Menurut Mustafa, selama ini Bulog selalu menjadi ”kambing hitam” apabila ada persoalan dalam distribusi raskin. ”Berbagai keluhan soal distribusi raskin bisa segera diatasi apabila Bulog yang langsung bertanggung jawab dalam distribusi raskin dari gudang Bulog hingga titik bagi, bukan hanya sampai titik distribusi, yaitu kecamatan,” katanya.

Jika Bulog menangani distribusi langsung dari gudang ke titik bagi, menurut Mustafa, Bulog mengusulkan kenaikan harga penjualan Rp 100 per kg, dari Rp 5.850 menjadi Rp 5.950 per kg. ”Dengan tambahan Rp 100 per kg, Bulog bisa menyalurkan raskin dari gudang ke RTS (rumah tangga miskin),” katanya.

Surat edaran bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan menyebutkan, volume raskin yang dibagikan pada 2010 untuk 17.094.996 rumah tangga miskin sebanyak 2.051.400 ton.

Menurut guru besar sosial ekonomi dan industri pertanian Universitas Gadjah Mada, M Maksum, pengalihan kewenangan distribusi raskin dari pemda ke Bulog tidak menyelesaikan masalah sebab persoalan utama adalah lemahnya sistem kontrol. ”Pendekatannya seharusnya meningkatkan mekanisme kontrol itu oleh aparat penegak hukum,” ujarnya.

Dia menjelaskan, harga jual raskin Rp 5.850 per kg sebenarnya sudah termasuk biaya distribusi sehingga tidak ada alasan bagi Bulog untuk menambah anggaran distribusi.

Distribusi raskin kerap bermasalah. Penerima raskin sering kali harus menebus dengan harga lebih tinggi dari yang ditetapkan. Harga tebus raskin bervariasi, yaitu Rp 1.700 sampai Rp 2.500 per kg. Selain itu, aparat pemerintah desa juga kerap mengambil ”kelebihan” dana tebus, atau

kelebihan distribusi beras, akibat tidak dibagi sesuai volume.

Bahkan, kata anggota Komisi IV DPR, Elviana, warga penerima raskin kerap mendapat jatah lebih kecil dari yang ditetapkan. Setiap rumah tangga sasaran seharusnya menerima 15 kg beras per bulan, selama 12 bulan. ”Kenyataannya, tak jarang hanya menerima 7 kg atau 8 kg.” (MAS)

Sumber: Kompas Cetak

 
< Prev   Next >

9 JURUS SUKSES BEERTANAM PEPAYA KALIFORNIA

Telah terbit:

Bisa didapat di toko2 buku di seluruh tanah air.


UD PRIMA AGRO
Copyright © 2007 - 2014 Kemandirian Pangan